24UTC12UTC05bUTCThu, 24 May 2007 11:33:12 +0000 30, 2007

Belajar Ikhlas Dari Ali as.

Posted in Kajian, Renungan, Teladan pada 2:33 am05 oleh iwan

            Keimanan dan pengorbanan Ali as. dalam rangka kemajuan agama islam tidak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata, semua orang mengakuinya baik kawan maupun lawan, mu’min maupaun kafir.

Walau dengan seribu jasanya terhadap islam, hari itu tatkala ia sadar bahwa ia harus safar dari dunia fana menuju dunia baqa, dan tatkala ia tahu bahwa ia harus menanggalkan sangkar tanah dan materinya menuju kekasih sejati dan kehidupan abadi yang selalu dinanti kedatangannya oleh para wali Allah. Malam itu ia mewasiatkan kepada putra terbesarnya Al-Hasan as. untuk tidak menguburkan jasadnya di kota Kufah, ia berpesan ketika waktu hampir menjelang subuh untuk membawa jasadnya ke tanah Ghari ( terletak di samping kota Kufah markas pemerintahannya ) dan supaya dikuburkan di tempat itu, setelah dikubur tutupilah kubur itu.

Sebab kenapa beliau berpesan agar kuburan sucinya tersembunyi dari banyak orang, beliau mengetahi bahwa musuh-musuh beliau yang pada waktu itu kebanyakan kaum Khawarij akan bersikap kurang ajar dan memanfaatkan kubur beliau.Ketika waktu menjelang sahur, hari ke dua puluh satu bulan Ramadhan tahun ke empat puluh hijriah, Al-Hasan as. dan Al-Husein serta orang-orang yang masih setia kepada keluarga suci Nabi saw. membawa tubuh pejuang islam tersebut keluar dari Kuffah dan menguburkan di tempat yang diwasiatkan oleh ayah mereka. Setelah selesai melaksanakan penguburan mereka pun kembali ke
kota Kuffah.

Belum sampi ke kota Kuffah, di tengah jalam mereka mendengar suara rintih dan sedih. Mereka melihat seorang kakek tua yang buta tersungkur di tanah karena sudah tidak lagi memiliki kekuatan untuk berjalan. Terdengar kakek tua itu bergumam dan sementara air matanya mengalir deras.  Al-Hasan as. pun menghampirinya dan berkata : Wahai kakek kenapa anda begitu sedih ?  Sang kakek berkata: wahai tuan! Engkau lihat bahwa aku ini buta dan sudah tua renta, aku juga tidak punya siapa-siapa untuk aku mintai pertolongan.  Al-Hasan berkata : sampai saat ini apa yang terjadi dan bagaimana engkau bisa bertahan?   Sang kakek berkata : wahai tuan! Dulu di kota ini ada seorang laki-laki agung yang selalu mendatangiku dan memberiku makanan, akan tetapi tiga hari ini ia tidak pernah datang lagi menemuiku.  Al-Hasan berkata : sampai saat ini apakah engkau tidak menanyakan siapa dia?Sang kakek berkata : aku berkali-kali menanyakan nama kepadanya, akan tetapi ia selalu berkata; aku adalah hamba Allah. Ketika ia memasukan tempat ini aku melihat cahaya memancar di rumah ini dan dari harum tubuhnya,  semua tembok di tempat ini menjadi penuh dengan wewangian.

Ketika mendengan ucapan kakek tua itu Al-Hasan as. dan Al-Husein as. serta para pengikutnya tak kuasa menahan tangis.  Al-Hasan berkata : wahai kakek tua! Apakah anda tahu siapa dia?Tidak! Kata sang kekek.  Al-Hasan berkata : ia adalah ayah kami.Memang anda sekalian siapa? Tanya sang kakek.   Kami Hasan dan ini adikku Husein cucu Nabi saw. dan lelaki agung tersebut adalah Ali as. pemimpin kaum muslimin.  Sang kakekpun berseru dengan keras. Subhanallah !… terus kemana ia, kenapa sekarang ia tidak pernah datang lagi?Wahai kakek! Seseorang telah menikam Ayahku pada tanggal sembilan belas, selama tiga hari beliau sakit dan malam kemarin beliau wafat. Hari ini kami menguburkannya dan kami rencana kembali ke Kuffah.Kakek tua itu tidak lagi kuat menahan dirinya, ia menangis dan merangkul Al-Hasan dan Al-Husein dan berkata: wahai putra manusia agung! Demi kekek kalian, bawalah aku ke kubur suci itu.  Al-Hasan dan Al-Husein serta rombongan pun kembali ke kubur Amirul Mukminin dan membawa sang kakek tua ke kubur suci itu.Ketika sampai di
sana dan ketika kakek tua itu tahu bahwa itu adalah kubur Ali as. ia langsung bersungkur dan meletakkan mukanya di tanah suci tersebut serta air matanya pun deras mengalir. Ia pun bergumam: wahai Tuhan! Aku bersumpah demi maqam ishmat dan kesucian Amirul Mukminin as. matikanlah aku di tempat ini. Setelah sepeninggalnya aku tidak mau hidup walau sesaat.
Kakek tua itu terus menangis dan berdoa kepada Allah agar nyawanya dicabut. Al-Hasan dan Al-Husein mendengar suara tersebut yang semakin lama semakin pelan sampai akhirnya tubuhnya jatuh ke tanah.

Mereka pun menghampiri sang kakek, ia mengucapkan kata Labbaik sebagai kata terakhirnya dan ia pun menyusul Ali as. menuju yang maha Haq. Al-Hasan dan Al-Husein pun memandikan, mengkafani dan menuburkan jasadnya di samping kubur Ali as.  ( Kamil Bahai cetakan Qom Hal. 125 – Imaduddin Thabari )

2 Komentar »

  1. Imam Ali as, memang manusia hebat…tak salah jika Imam Syafi’i berkata: “Dikatakan manusia, tidaklan seperti manusia dan dikatakan Tuhan ia bukanlah Tuhan…””. Ya Ali Jonam…! jadikanlah kami pengikut setia-mu…amiin.

  2. azzahra said,

    Amiiiin !


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: