28UTC33UTC06bUTCThu, 28 Jun 2007 16:44:33 +0000 30, 2007

Cinta Wathan (Negara) Sebagian Dari Iman

Posted in Renungan pada 2:33 pm06 oleh iwan

Saya (masih) yakin bahwa Tuhan tidak mungkin salah dan Dia tidak  membuat kaidah ini hanya untuk sebagian orang. Saya ingin mencoba membuat ilustrasi, mungkin dengan ini kita bisa sedikit mendapat jawaban. Jika seseorang sakit, maka makanan seenak apapun bahkan makanan paforitnya sekalipun akan terasa pahit di lidahnya. Contohnya ketika kita sakit, walaupun yang kita makan adalah sate atau bakakak hayam ( ayam bakar ) sekalipun, di lidah kita akan terasa pahit dan rasa aslinya tidak bisa kita nikmati. Terus, apakah yang terjadi ? apakah ada yang berubah pada makanannya? Ketika kondisi tersebut terjadi, apakah yang salah makanannya ataukah kitanya ?. Tentu anda sepekat dengan saya, bahwa yang salah bukan sate, akan tetapi yang salah adalah lidah kita (karena sakit). Sate tetap sate dengan rasa yang mantap seperti semula, begitu juga bakakak hayam.

 

CINTA  WATHAN  SEBAGIAN  DARI  IMAN 

Sesungguhnya dengan mengingat Allah swt. Maka hati akan menjadi tenang. 

Ayat di atas merupakan sebuah pernyataan atau janji dari Tuhan bahwa jika hati kita ingin mendapat ketenangan maka ingat ( berdzikirlah ) kepadaNya.  Akan tetapi, banyak diantara kita ( saya terutama ) ketika melakukan shalat dan dzikir, kita tidak merasakan ketenangan bathin. Shalat yang kita lakukan hanya sekedar menuntaskan kewajiban. Kita malah merasa terbebani dengan pekerjaan-pekerjaan  seperti shalat, dzikir, wirid dan sejenisnya.

Apakah ayatnya yang salah, atauakah ayat ini hanya berlaku bagi sebagian orang saja. Sebagian orang begitu menikmati ibadah dan dzikir. Mereka lakukan shalat dengan penuh khusyu dan menikmati pekerjaan-pekerjaan seperti itu. Ketika melakukan shalat mereka lupa segala hal berbeda dengan kita, ketika kita shalat semua hal satu persatu mulai muncul di benak kita bahkan sesutau yang terlupa pun menjadi ingat. Maka jangan heran jika sebagian kita melakukan shalat dengan tujuan hanya ingin menemukan barang hilang.

Saya (masih) yakin bahwa Tuhan tidak mungkin salah dan Dia tidak  membuat kaidah ini hanya untuk sebagian orang. Saya ingin mencoba membuat ilustrasi, mungkin dengan ini kita bisa sedikit mendapat jawaban. Jika seseorang sakit, maka makanan seenak apapun bahkan makanan paforitnya sekalipun akan terasa pahit di lidahnya. Contohnya ketika kita sakit, walaupun yang kita makan adalah sate atau bakakak hayam ( ayam bakar ) sekalipun, di lidah kita akan terasa pahit dan rasa aslinya tidak bisa kita nikmati. Terus, apakah yang terjadi ? apakah ada yang berubah pada makanannya? Ketika kondisi tersebut terjadi, apakah yang salah makanannya ataukah kitanya ?. Tentu anda sepekat dengan saya, bahwa yang salah bukan sate, akan tetapi yang salah adalah lidah kita (karena sakit). Sate tetap sate dengan rasa yang mantap seperti semula, begitu juga bakakak hayam.

Begitu juga halnya dengan dzikir, pada hakekatnya dzikir akan membawa bathin kita kepada ketenangan. Jika pada sebagian kita ternyata dengan dzikir hati tetap saja tidak merasa tenang, yang salah bukan dzikirnya akan tetapi hati kitanya yang sakit. Hati ( ruh ) yang sakit tidak akan tidak akan merasakan kenikmatan dan ketenangan dalam dzikir. Berbeda dengan hati atau ruh yang sehat, dengan berdzikir mereka akan terlarut dalam kenikmatan dan kefanaan dengan seseorang yang disebut dalam dzikirnya.

 Murtadha Muthahari memberikan alasan kenapa hati begitu tenang ketika berdzikir kepada Tuhan. Ia berpendapat bahwa manusia dalam kehidupannya di dunia ini, disibukkan dengan hal-hal duniawi. Ketika beribadah dan berdzikir, ruhnya kembali ke tempat aslinya ( tempat semula ia ada ). Maka ruh pun terlepas ( beristirahat ) dari segala yang ikatan-ikatan dan keterbatasan-keterbatasan materi. Pada kajian terdahulu ( kedudukan cinta dalam tasawuf ) telah disebutkan pendapat para sufi. Mereka berpendapat bahwa ruh manusia bersumber dari Tuhan, sebelum diciptakan dunia ruh sudah berada disisi Tuhan, oleh karenanya kecintaan terhadap dunia adalah kecintaan yang asing dan jauh dari rumah aslinya. Hati serta ruh selalu merindukan tempat aslinya dan tempat tinggalnya. Dan Suhrawardi menafsirkan kata whatan (negara) dalam hadits; “cinta wathan ( negara ) adalah sebagian dari iman “ adalah tempat asli manusia, ketika makhluk lain belum tercipta, dan yang hanya dia dengan Tuhan.

Jadi yang hakiki pada kita adalah ruh, sementara badan materi bagi kita adalah sesuatu yang asing, akan tetapi ternyata kita hanya sibuk menghiasi badan. Dunia adalah dunia, dunia dalam bahasa arab termasuk kepada isim tafdhil ( muanats dari kata adna ) yang berarti paling bawah. Karena dunia merupakan paling bawahnya silsilah keberadaan. Paling tinggi dan puncak adalah wujud Tuhan dan Tuhan adalah cahaya dari segala cahaya ( sumber cahaya ). Dunia adalah silsilah paling akhir dari cahaya, ia adalah batas kegelapan. “Cinta dunia adalah sumber dari segala kesalahan” (hadist). Karena ketika kita berada di kegelapan, kita akan ngatog ( keder ) dan akan nabrak sana nabrak sini karena kegelapan adalah sumber kesalahan.

 

5 Komentar »

  1. oRiDo said,

    cinta dunia memang slah satu godaan yang sulit sekali di hindari..
    yang penting kita selalu berusaha utk memperbaiki diri dan beramal utk selalu “berinvestasi” di surga..

    sedikit tambahan informasi seputar cinta:
    http://orido.wordpress.com/2006/06/09/hotd-cinta-dan-benci-allah/
    http://orido.wordpress.com/2007/02/12/hotd-kasih-sayang-islam/

    semoga berguna..

  2. Quito Riantori said,

    Salam, Mas Iwan! Semoga blognya makin maju n makin bermutu!

  3. iwan said,

    @ Quito R.
    terima kasih banyak atas kunjungan dan doanya. jangan bosan2 berkunjung biar blog ini semakin berkah. amiiin.

    @ Orido
    memang benar kita perlu kesungguhan ( mujahadah ) untuk melepaskan diri dari godaan dunia untuk meraih surgaNya.
    mohon doanya.

  4. Mana tulisan barunya, Amu Iwan?

  5. iwan said,

    insya Allah, mudah2an semua bisa cepat selesai. doain aja. masykur.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: